Hari itu saya, hayun, wayan, reno ada di pertemuan Himpunan Ahli Teknik Hidraulik Indonesia, kita lengkap dengan kemeja dan sepatu yang disemir mengkilat, Mahasiswa tetap mahasiswa karena kita menggendong tas yang memang lusuh diantar orang berpakaian batik, jas dan dasi
siang itu ada pertemuan ahli teknik hidraulik se Indonesia, banyak pejabat, pengajar dan pengusaha berdiri disana, kita hadir karena sebelumnya kita sudah berbicara dengan pak moko dan meminta bantuan beliau untuk mencari alternatif supaya kita bisa berangkat ke lombok
sudah dua bulan lebih dari 60 orang bergerak kesana kemari mencari dana, kita habiskan waktu untuk berjualan teh botol, kembang atau bahkan mengumpulkan koran bekas, kita berusaha melobby kesana kemari supaya dana yang turun lumayan sehingga biaya kita tak terlalu besar untuk ke lombok, yang ada di kepala kita hanya kita harus berangkat, mungkin berat, tapi bukan angkatan 97 namanya kalau kita tidak berjuang sampai tetes darah penghabisan, seperti mimpi di siang bolong kata salah seorang yang saya kenal, karena berangkat ke lombok dan menginap seminggu disana bukan hal mudah, mencontoh salah satu institusi terkenal mereka perlu waktu lebih dari sebulan untuk berangkat ke lombok itupun dengan dana gila-gilaan