Siapa sangka, pemuda yang akrab dipanggil Adhit ini selalu memberikan kejutan untuk keluarga dan tanah kelahirannya, Lampung. Pemuda yang memiliki nama lengkap Achmad Adhitya Maramis itu pada akhir tahun 2006 lalu dinobatkan sebagai Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Pusat di Jerman. Mendengar kabar kepulangannya ke Lampung, Radar Lampung langsung singgah ke kediaman Adhit, Jl. Cengkeh No. 2 Gedungmeneng, Bandarlampung, guna mengenalnya lebih dekat. Pasalnya, ia jarang sekali pulang ke tanah air. Saat ini saja, ia harus mengisi presentasi di Institut Teknologi Bandung.
Adhitiya adalah putra pertama dari pasangan Hi. Ir. Maramis Syukri, M.M., M.H. dan Hj. Yusnani Maramis, S.H., M.H. Ia lahir di Lampung pada tanggal 13 Oktober 1979. Sejak kecil ia terkenal sebagai anak yang pemalu dan tak jarang teman-temannya selalu meledekinya kalau sifat pemalunya sudah muncul. Tapi siapa sangka, kini ia menjadi ketua sebuah organisasi yang mewadahi seluruh pelajar yang berada di Jerman. Tak hanya itu, meskipun pemalu, ia memiliki banyak prestasi, seperti juara I pidato Bahasa Inggris se-Jawa Timur yang diadakan oleh Jawa Pos (2002), Best Speaker IVED (Indonesia Varsities English Debates) pada tahun 1999, Pemakalah Simposium Nasional tentang ICMI di Malang pada tahun 1999 tentang Redefinisi dan Reaktualisasi ICMI. Kemudian, juara 1 lomba pidato Berbahasa Inggris di Malang pada tahun 2002 dan Jambore Ranting tahun 1989.
Untuk diketahui, PPI Jerman adalah organisasi perhimpunan pelajar Indonesia yang digunakan untuk menjadikan wadah aktualisasi diri bagi pelajar Indonesia yang berada di Jerman. Organisasi ini berdiri pada tanggal 4 Mei 1956 di Bad Godesberg. Namun, karena proses regenerasi kepengurusan PPI tidak berjalan dengan baik, pada tahun 1998 organisasi ini mengalami kevakuman. Kevakuman itu tidak berlangsung lama. Pada akhir 2006, organisasi ini mulai hidup kembali dengan mengadakan pemilihan pengurus-pengurus baru yang mengangkat Adhit sebagai ketua.
Menurut Adhit, proses pemilihan dihadiri 16 cabang PPI di seluruh Jerman. Dari 16 cabang, muncul 8 nama kandidat yang mewakili seluruh pelajar di Jerman. Setelah masuk sebagai daftar kandidat, mereka memasuki tahap berikutnya, yaitu penyisihan yang terdiri dari dua tahap. Tahap pertama, pemilihan menyisihkan lima orang kandidat dan tahap kedua tersisa dua calon, yaitu dari Bonn dan salah satunya Adhit dari Keil yang akhirnya dimenangkan oleh Adhit.
Adhitiya mulai menggeluti organisasi pada tahun 1999. Saat itu, ia menjadi Ketua Komisi III Dewan Teknik bidang Penelitian dan Pengembangan. Ternyata, berorganisasi dapat merubahnya dari sosok pemalu. Tidak disangka, di waktu yang bersamaan, ia juga menjadi Ketua Presidium Temu Ilmiah Mahasiswa Teknik se-Indonesia. ”Saat itu saya tidak menyangka terpilih sebagai ketua, masalahnya ini bukan ajang kampus lagi tapi sudah tingkat nasional, dan saya merasa rekan-rekan saya juga memiliki potensi yang cukup besar dibanding saya,” tutur Adhitiya tidak membanggakan dirinya. Bagaimana tidak, istilah padi yang makin berisi makin merunduk masih tetap mengalir di dalam dirinya.
Saat ini Adhit sedang menyelesaikan pendidikan S3 di University Christian Albrecht zu Keil, Jerman. Sementara, gelar S1 ia peroleh di Universitas Brawijaya, Indonesia, Fakultas Teknik dan S2 ia peroleh di kampus tempat ia menempuh gelar S3 saat ini. ”Sebetulnya niat saya kuliah di Jerman hanya untuk menyelesaikan S2 saja, namun setelah menyelesaikan pendidikan selama 1,5 tahun, dosen saya menyarankan untuk langsung mengambil S3, katanya sih mumpung saya masih muda,” ucap Adit sambil tersenyum. Bak gayung bersambut, ketika ia menyampaikan saran tersebut pada orang tua dan keluarganya, mereka menyetujuinya.
Adhit memilih Jerman sebagai negara tempat menyelesaikan pendidikan bukan tidak beralasan. ”Saya memilih Jerman karena Jerman juga merupakan negara pusat teknologi dan terus terang saya juga mencoba mengikuti kiblat Bapak Habibi,” ucap Adhit sambil tersenyum geli, maklum ia sangat mengagumi sosok ahli teknologi ini. (adv)
salut ada anak muda seperti adit , masih muda sudah mendapat gelar S2 good luck buat adit selamat berjuang di bumi sang ruwai jurai