telapak ku bersahabat dengan diam dan mengakrabi keheningan
Aku tak mau mengusik keagungan abadimu
Aku khawatir jiwaku terbakar dalam kelembutanmuAch…Andaikan aku bisa menyentuh sedikit jubah agung mu
dan biarlah aku terseret di sepanjang langkahmu
karena itu akan lebih baik dari sejuta damai yang kualami sekarang…
Atau ijinkan lah aku sebentar menciumi telapakmu
agar debu mu yang suci melekat di keningku
maka ia akan lebih indah dari sekantung minyak zaitun yang wangi
Hari ini aku menunduk begitu rendah…bahkan lebih rendah dari pinggangku sendiri
Aku ingin menjadi segaris dengan rumput…agar langkahmu menjadi untaian doa yang damai saat ia melewati ku…biarlah aku mengalasi perjalanan sucimu itulah dharma yang akan kupikul di sepanjang hidupku…
Kalau jiwaku gemetar maka biarlah tanganmu memeluk ku dengan hangat
karena pelukan mu mengingatkan ku bahwa ada kekuatan Maha Dahsyat yang sedang berbisik
“Bersabarlah…Aku tak pernah jauh darimu…Aku selalu berada di dekatmu…tak pernah lepas pandangan Ku dari mu tidak untuk satu tarikan nafasmu…bersabarlah…”
Kalau hatiku bingung dan ragu maka genggaman tanganmu menarikku dan menuntunku sehingga langkahku menjadi sepadan dengan langkahmu…
Kemudian wajah mu berbalik dalam senyum yang menghanyutkan
“Tempatmu ada disamping Ku…langit hanyalah tabir…percayalah Aku selalu tersenyum…tak pernah hatimu tertutup kabut…kemarilah Aku yang menuntun jalanmu … Kau tak perlu yang lain”
Hari ini kami diam…karena kau selalu bersahabat dengan diam…bulan tidak bersuara ketika tenggelam…
Bunga tidak berteriak ketika mekar…
Dalam diam aku berdialog denganmu…Berkeluh kesah tentang hidup…bermanja – manja dengan takdir…ya…hanya dalam diam…
Dalam hening aku mencarimu…Tuhan…