In 1965 the Korean government ordered General Choi, Hong Hi, 9th Dan, highest ranking representative of Taekwon-Do along with a team of five selected Grandmasters, to introduce and spread Taekwon-Do throughout the world.
Kwon, Jae-Hwa was one of the five chosen because of his spectacular talent and accomplishments.Shortly after he began his work as an instructor in Munich. In 1966 he founded the German Taekwon-Do association, became its master instructor, was appointed by the Korean government to be the representative for Europe and Middle Asia and started traveling to other countries in order to spread Taekwon-Do.
Today, Grandmaster Kwon, Jae-Hwa oversees 150 schools worldwide from his center in New York where he still teaches on a daily basis. He travels regularly to Europe to instruct in physically intensive seminars. From the original 1965 grandmaster team that was sent to spread Taekwon-Do, Kwon, Jae-Hwa is the only remaining active member.
Father of european taekwondo, real something else right, sebagai salah satu pecinta olahraga ini, maka saya juga menyempatkan hadir karena toh beliau bersedia mampir di dojo kita yang sederhana, sebagai salah seorang legenda Taekwondo maka saya berfikiran grand master kwon pasti seseorang yang begitu kharismatik dan sangat berwibawa, megah dengan segala titel dan kebanggan yang melekat padanya
Setelah cukup lama berdesakan menunggu, maka datanglah sosok kecil, berambut putih, dengan jaket warna coklat dan celana hitam, wajahnya tidak berhenti terus menebar senyum, sambil menyalami dengan badan sedikit membungkuk, dia hanya ditemani oleh seorang pria yang agak muda umurnya mungkin sekitar 20 an. Dialah grand master Kwon…pria yang tampil begitu sederhana dengan jaketnya yang terlihat mulai lusuh, seorang instruktur taekwondo yang memiliki lebih dari 150 dojo tersebar diseluruh dunia, legenda taekwondo yang bahu membahu bersama general choi menyebarkan taekwondo keseluruh dunia…seorang legenda…. yang tampil dengan sangat sederhana, selalu tersenyum, dan menyalami siapa saja sembari sedikit membungkukan badannya…ach… ternyata menjadi legenda itu tidak dengan titel yang melekat padanya…menjadi legenda itu adalah (mengutip dari Mahatma Gandhi) bersedia untuk menjadi lebih rendah dari debu…
Setelah melakukan latihan bersama, maka sang grand master yang murah senyum ini berpesan :
“tidak penting apakah kalian memegang dan 1, dan 2, dan 3, orang tidak boleh berhenti untuk terus berlatih dan menyempurnakan diri, dan pada saat kita sudah menjadi lebih kuat dan lebih baik maka rendah hati lah…lakukan ini dalam taekwondo dan lakukan ini dalam hidup, maka semoga kalian berhasil”
kemudian hening sesaat…saya melihat ke sekeliling, beberapa orang tampak begitu termangu mendengar pesan singkat guru besar yang begitu dikagumi ini…duh Gusti… tidak salah ternyata Muhammad yang menjadi khalifah itu memilih tidur diatas pelepah kurma yang membuat punggungnya jadi membekas…tidak salah Isa yang mendatangi dan menyembuhkan orang orang yang terkena kusta dengan begitu kasih sayang…tidak salah Gautama itu memilih meninggalkan kerajaan yang megah… ternyata Legenda justru jatuh pada manusia manusia sederhana yang rendah hati…
We learn Tae Kwon-Do in order to build our bodies and our minds to grow stronger in love of our country, in love of justice and right.
We do not have to prove to people how strong we are – our goal is to continue to become more powerful.
And when we become strong we should live humbly, directing our power towards helping the weak.
To become champions of justice our spirits must be indomitable and this we should never forget…
“ZEN ART OF SELF-DEFENSE”
(“Zen-kunst de selbstverteidigung”)
by: Grandmaster Kwon Jae-Hwa