Malam itu seorang wanita berumur 52 tahun sedang duduk sendirian di rumahnya, pikirannya nampak jauh melayang tidak berada ditempat dimana dia duduk sekarang…ia baru saja menerima kabar bahwa suaminya menderita kanker prostat, tapi sayangnya dia tidak bisa menemui suaminya…dia punya dua pilihan, dia pergi meninggalkan suaminya atau dia pergi meninggalkan rakyatnya…ach …pilihan yang terlalu berat untuk seorang wanita yang sudah berumur ini…
Dialah wanita yang menurut majalah Times adalah tokoh wanita kedua paling berpengaruh di Dunia, namanya Aung San Suu Kyi…sejak tahun 1989 Junta militer di Burma telah menempatkan putri Jendral Besar Aung San ini menjadi tahanan rumah…tahun 1990 partainya mengikuti pemilihan umum dan 80 persen lebih rakyat Burma memilih partainya…tapi Junta militer dengan tegas menolak hasil pemilihan itu…
Sejak itu wanita sederhana dan murah senyum ini kembali menjadi tahanan rumah…sekali lagi Suu Kyi diberikan dua pilihan : pergi dari Burma dan bebas atau bertahan di Burma dan menjadi seorang tahanan…Kalau dia bebas maka Suu Kyi akan menikmati hidupnya yang menyenangkan di Inggris dimana suami dan anak – anaknya tercinta telah menunggu disana, dia harusnya bisa melakukan perjuangannya dari luar Burma…tapi… Suu Kyi lebih sekedar seorang istri, seorang ibu dan seorang pejuang…Suu Kyi memanggul beban terlampau berat dipundaknya sebagai seorang Negarawan…tak ada peluang baginya untuk memikirkan dirinya sendiri…Hidupnya adalah rakyatnya…tak ada yang lain…
Saya jadi terngiang dengan kata-kata Gandhi :
“if i wanna struggle with them (people of India) i must become like one of them“
Semangat dan keberanian Suu Kyi ini menjalar ke seluruh rakyat Burma seperti gelombang sungai yang terus saja mengalir tanpa henti, setelah dipisahkan dari keluarga yang tak pernah lagi bisa ditemuinya..setelah puluhan kali menderita tekanan mental dan psikologis…bahkan percobaan pembunuhan…wanita cantik yang murah senyum ini dengan suara lembutnya berkata kepada Jendral Than (Diktator Burma) :
“saya tidak pernah membenci Jendral Than, saya hanya tidak suka kepada sofat kediktatoranya”
Wanita ini memang terlalu luar biasa…Ketika Gandhi dipanggil Bappu (father) oleh seluruh rakyat India maka rakyat Burma memanggilnya Daw yang berarti BIBI…..saudara perempuan dari seluruh rakyat Burma…atau bahkan seluruh pejuang demokrasi dimanapun dia berada…
Tetaplah berjuang…Daw…Kemerdekaan tak kan pernah tunduk pada senjata… tapi dia tegar menantang kekerasan sama seperti dirimu yang selalu tersenyum…