Hari itu saya, hayun, wayan, reno ada di pertemuan Himpunan Ahli Teknik Hidraulik Indonesia, kita lengkap dengan kemeja dan sepatu yang disemir mengkilat, Mahasiswa tetap mahasiswa karena kita menggendong tas yang memang lusuh diantar orang berpakaian batik, jas dan dasi
siang itu ada pertemuan ahli teknik hidraulik se Indonesia, banyak pejabat, pengajar dan pengusaha berdiri disana, kita hadir karena sebelumnya kita sudah berbicara dengan pak moko dan meminta bantuan beliau untuk mencari alternatif supaya kita bisa berangkat ke lombok
sudah dua bulan lebih dari 60 orang bergerak kesana kemari mencari dana, kita habiskan waktu untuk berjualan teh botol, kembang atau bahkan mengumpulkan koran bekas, kita berusaha melobby kesana kemari supaya dana yang turun lumayan sehingga biaya kita tak terlalu besar untuk ke lombok, yang ada di kepala kita hanya kita harus berangkat, mungkin berat, tapi bukan angkatan 97 namanya kalau kita tidak berjuang sampai tetes darah penghabisan, seperti mimpi di siang bolong kata salah seorang yang saya kenal, karena berangkat ke lombok dan menginap seminggu disana bukan hal mudah, mencontoh salah satu institusi terkenal mereka perlu waktu lebih dari sebulan untuk berangkat ke lombok itupun dengan dana gila-gilaan
tapi siang itu kita berdiri diantara kumpulan para orang terkenal itu dan mencoba menemui salah seorang pejabat penting disana
hayun berbisik kepada saya “dit ngomongin intinya aja, mereka gak perlu basa-basi, to the point”
“sip” balas saya singkat
bertemu dengan pejabat yang sederhana ini, saya langsung mengutarakan pendapat saya, to the point dan tidak banyak basa-basi, 3 orang sahabat saya yang lain berdiri disekliling saya, seolah menangkap inti pembicaraan pejabat ini berkata
“gini nanti saya kenalkan dengan beberapa pimpinan proyek penting di lombok kamu bicara dengan dia, ini no hp saya nanti kita bicara di regent”
“kita dipimpong” jawab saya singkat dengan teman-teman
“tenang sudah berapa kali kita lolos dari lubang jarum, kita temui dia di regent” balas hayun cepat
malam itu kita masuk ke regent, kali ini lebih banyak orang datang ke regent, karena tidak hanya saya, hayun, wayan dan reno tapi ada Jimmy dan Fanny, sesampainya disana kita bilang ingin bertemu dan sudah punya janji
lalu sesampainya disana resepsionis bilang “hanya ketua nya yang dipersilahkan bertemu”
akhirnya saya berangkat sendiri dan bertemu dengan pejabat tadi dan beberapa pimpinan proyek penting disana, setelah berbasa-basi saya langsung menyampaikan inti yang saya inginkan dan langsung, kemudian dia berkata
“baik semua masalah kalian di lombok, kita yang atur semuanya, kalian persiapkan masalah transportasi saja”
saya turun ke lobby dan teman-teman yang lain sudah makin banyak yang berkumpul
wayan duluan yang bertanya
“jadi gimana dhit ?”
sambil mengacungkan jempol dan tersenyum “kita berangkat ke lombok”
“kita lolos dari lubang jarum lagi, it is not over untill it is over”
di detik terakhir akhirnya kita berangkat, mekanisme dunia memang luar biasa banyak pengalaman yang mengajarkan pada saya bahwa menyerah atau bertahan memang hanya dibatasi garis tipis, dua gol terakhir MU ke gawang Muenchen yang menghentakan piala champion saat itu justru ada di detik terakhir pertandingan babak kedua, kalau keberuntungan kita ada di menit ke 89 babak kedua, maka apa gunanya kita mengeluh di 88 menit sebelumnya ?